Multimedia Education Center (MEC) Indonesia

Pusat Informasi Pendidikan | Multimedia | Advertising untuk Indonesia

Home > Pendidikan > Jungkir Balik Makna Kualitas Pendidikan (Refleksi)

Jungkir Balik Makna Kualitas Pendidikan (Refleksi)

Kenapa harus sekolah negeri favorit? Benarkah rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) itu berbiaya mahal? Ini pertanyaan yang sungguh menggelitik, khususnya  pada tahun pelajaran baru seperti saat ini.

Secara kasatmata, sekolah negeri favorit tentu bagus karena didukung fasilitas belajar mengajar lengkap dan canggih. Soal mahal atau murah itu subjektif dan relatif (bagi siapa dan dibandingkan dengan mana?) Biaya di RSBI tentu lebih mahal ketimbang sekolah negeri pada umumnya. Begitu pun, siapa berani menjamin sekolah negeri favorit atau RSBI itu mampu mengubah anak bodoh menjadi pintar, berprestasi, mendapat pekerjaan terhormat setelah tamat, dan sukses hidupnya?

Yang sering terjadi, karena berlokasi di lingkungan strategis, dengan fasilitas bangunan sekolah cukup mentereng, banyak keluarga kalangan atas lebih suka menyekolahkan anak di sana. Lingkup pergaulan yang berbiaya mahal dan cenderung eksklusif, teramat sering menimbulkan persaingan (kompetisi) kurang sehat. Ironisnya, ini justru membuat gengsi mereka makin tinggi, sebagai sekolah elite.

Pendidikan di sekolah negeri mana pun pada dasarnya sama, berkualitas standar. Tidak perlu mempermasalahkan sekolah negeri atau swasta, favorit atau tidak. ’’Tak ada perbedaan antara sekolah negeri dan swasta karena kurikulum yang diajarkan juga sama,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin (SM, 12/07/12).

Bagaimanapun jika masyarakat punya persepsi lain, itu sah-sah saja. Logikanya, meski kurikulum sama kalau guru berkualitas, teknik mengajarnya lebih komunikatif, dan lingkungan belajar kondusif, hasilnya pasti lebih baik.

Faktanya, di sekitar kita ada beberapa lembaga pendidikan swasta yang cukup favorit karena rekor lulusan tergolong membanggakan. Dengan penerapan disiplin amat ketat, didukung sarana-prasarana memadai, orang tua pun rela membayar sumbangan pengembangan institusi (SPI) puluhan juta rupiah agar anak-anak bisa diterima di sana.

Kata Serupa yang dicari pada Artikel ini:

Bantu Share Artikel ke teman-teman anda:

Artikel Terkait :

Pages: 1 2

Untuk Langganan GRATIS Informasi Artikel Terbaru MECINDONESIA.COM, Masukan Email di sini:

Leave a Reply